Tradisi Sakral Dayak Ga’ai Akan Ditampilkan Dalam Festival Bekudung Betiung dan Hari Jadi ke-263 Kampung Tumbit : Didorong Jadi Magnet Wisata Budaya Unggulan Berau
POSKOTAKALTIMNEWS, BERAU : Kampung Tumbit Dayak di Kecamatan Sambaliung, Kabupaten Berau, kembali bersiap menjadi pusat perhatian pecinta budaya dan wisatawan melalui pelaksanaan Festival Bekudung Betiung yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Jadi Kampung Tumbit Dayak ke-263. Agenda budaya tahunan yang telah menjadi identitas masyarakat Dayak Ga’ai tersebut dijadwalkan berlangsung selama sepekan, mulai 24 hingga 30 Juni 2026.
Bukan sekadar
perayaan adat, Festival Bekudung Betiung menjadi momentum penting bagi
masyarakat untuk menjaga keberlangsungan tradisi leluhur di tengah perkembangan
zaman, sekaligus membuka ruang lebih luas bagi penguatan sektor pariwisata
berbasis budaya di Kabupaten Berau. Selama tujuh hari pelaksanaan, masyarakat
Kampung Tumbit Dayak akan menyuguhkan beragam prosesi adat, ritual budaya,
hingga perlombaan tradisional yang mencerminkan nilai kehidupan masyarakat
Dayak Ga’ai yang diwariskan turun-temurun.
Kepala Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Yudha Budi Santosa, mengatakan
bahwa seluruh rangkaian kegiatan akan tetap berjalan selama satu minggu penuh.
Namun, agenda yang melibatkan tamu undangan resmi akan dipusatkan pada dua
momen utama, yakni pembukaan dan penutupan festival.
“Pelaksanaannya
secara umum tetap satu minggu. Festival berjalan terlebih dahulu sesuai
rangkaian yang telah disiapkan masyarakat. Kemudian pada hari tertentu
dilakukan pembukaan resmi dengan mengundang tamu dan dilanjutkan hingga
penutupan,” tutur Yudha.
Menurutnya,
pelaksanaan festival tahun ini diharapkan dapat menghadirkan dampak lebih luas
dibanding tahun-tahun sebelumnya, khususnya dalam menarik kunjungan wisatawan
dari luar daerah. Karena itu, Disbudpar Berau mulai menyiapkan sejumlah
langkah, mulai dari koordinasi internal bersama bidang kebudayaan hingga
penguatan promosi agar gaung festival dapat menjangkau masyarakat lebih luas.
“Kami akan berkoordinasi terlebih dahulu terkait persiapan undangan dan mendorong promosi agar lebih ditingkatkan. Harapannya jumlah pengunjung dari luar daerah meningkat tahun ini. Sisa waktu yang ada akan dimanfaatkan semaksimal mungkin dan semoga kondisi cuaca juga mendukung,” katanya.
Festival Bekudung Betiung
sendiri merupakan salah satu warisan budaya yang memiliki makna mendalam dan
nilai spiritual tinggi bagi masyarakat Dayak Ga’ai.
Dalam tradisi
tersebut, Bekudung dimaknai sebagai ritual pesta syukuran pasca-panen yang
menjadi bentuk ungkapan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas hasil bumi dan
keberkahan kehidupan yang diterima masyarakat. Sementara itu, Betiung menjadi
simbol perjalanan hidup para pemuda menuju kedewasaan.
Ritual ini merupakan
bagian dari proses adat yang harus dijalani sebagai bentuk kesiapan memasuki
fase kehidupan berikutnya, termasuk sebelum diperbolehkan membangun rumah
tangga.
Nilai yang terkandung
dalam tradisi ini tidak hanya berbicara tentang ritual semata, tetapi juga
tentang bagaimana masyarakat menjaga hubungan dengan alam, menghormati leluhur,
serta mempertahankan identitas budaya di tengah arus modernisasi. Yang membuat
Festival Bekudung Betiung semakin istimewa adalah kuatnya semangat gotong
royong yang masih terjaga di tengah masyarakat Kampung Tumbit Dayak.
Selama pelaksanaan
festival berlangsung, warga secara sukarela bergotong royong menyiapkan makanan
untuk disajikan kepada para tamu dan pengunjung yang datang. Tradisi menjamu
tanpa memandang asal daerah ini menjadi gambaran nyata nilai kebersamaan yang tetap
hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Tidak hanya itu,
kemeriahan festival tahun ini juga akan diwarnai berbagai pagelaran upacara
adat, pertunjukan budaya, serta perlombaan tradisional yang menjadi daya tarik
tersendiri bagi wisatawan. Melalui festival tersebut, masyarakat tidak hanya
menampilkan kekayaan budaya lokal, tetapi juga memperkenalkan wajah Kampung
Tumbit Dayak sebagai kawasan yang memiliki potensi besar dalam pengembangan
wisata budaya berbasis masyarakat.
Yudha berharap
Festival Bekudung Betiung tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan,
melainkan menjadi ruang edukasi budaya bagi generasi muda sekaligus memperkuat
posisi Berau sebagai salah satu destinasi wisata budaya unggulan di Kalimantan
Timur. Menurutnya, pelestarian budaya akan semakin kuat ketika mampu
menghadirkan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat tanpa kehilangan nilai
dan makna yang diwariskan para leluhur.
Dengan perpaduan
antara ritual sakral, semangat kebersamaan, dan potensi wisata yang terus
berkembang, Festival Bekudung Betiung 2026 diharapkan kembali menjadi perayaan
budaya yang tidak hanya dikenang masyarakat lokal, tetapi juga menarik
perhatian pengunjung dari berbagai daerah. Selama sepekan, Kampung Tumbit Dayak
akan menjadi panggung yang memperlihatkan bahwa budaya bukan sekadar warisan
masa lalu, melainkan identitas yang terus hidup dan berkembang bersama
masyarakatnya. (sep/FN)